Skip to content

Sore Menuju Lelapnya

Layang-layang yang sedang melayang itu menunjukkan ketenangan angin yang sedang berhembus. Mungkin si pembuat layang-layang itu adalah orang yang berpengalaman, sehingga hasil layang-layangnya dapat melayang dengan baik,  seimbang, tanpa oleng. Udara yang berhembus pada sore ini tak terlalu dingin. Langit tak terlalu biru, seharian ini cuaca sangat cerah. 

Baru saja aku selesai mandi. Aku mengambil novel setebal 227 halaman yang bercerita tentang detektif di meja kamarku. Berjalan ke ruang tamu mengambil telepon genggamku yang ada di atas meja. Dengan tangan kanan membawa handphone dan tangan kiri membawa novel aku duduk di kursi kayu buatan bapakku yang terletak di teras rumahku. Kubuka handphoneku dengan pola seperti ujung anak panah yang menunjuk arah kiri. Ternyata tanda centang hijau masih awet di aplikasi BBM dan satu centang di aplikasi Whatsaap juga belum berubah menjadi dua centang. Semenjak tadi aku terbangun dari tidur, makan sambil nonton bola, mandi, hingga selesai mandi. Pesanku yang kukirim melalui jaringan internet itu belum sampai.

Kubuka halaman 47 pada novel yang kubawa, aku mulai membacanya. Belum sampai selesai membaca halaman yang kubuka itu, telephone genggamku berbunyi. Ada pesan masuk. Aku lega setelah membacanya. Kupandangi seekor capung yang terbang di atas lantai terasku, berputar-putar, mengira benda di bawahnya adalah air. Mungkin karena berkilauan terkena cahaya sore. Anjing  cokelatku berlarian di jalanan. Jalanan yang cukup sepi, tak banyak kendaraan yang lewat. Aku menghirup udara dalam-dalam menghembuskannya penuh kelegaan, mencoba membuang sesak yang beberapa jam tadi cukup menghimpit rongga dadaku. 

Kupandangi layang-layang berwarna hitam putih yang mulai diturunkan oleh pemiliknya, seperti enggan pulang, meronta-ronta namun tak ada daya melawan. Menghilang di balik gedung sekolah menengah yang belum selesai pembangunannya. Sore mulai meredup, menunjukkan lelahnya hari, menuju lelapnya.

Doa untuk Malam

Malam sengaja menyembunyikan kehangatannya, melalui desir angin yang dingin

Malam sengaja menyembunyikan kegaduhannya, melalui sunyi sepi yang ditebarnya

Malam tak seperti kopi, yang enggan menyembunyikan pahitnya

Malam, biarkan tetap seperti itu, yang menidurkan mereka. Amin.

Mandi

Di dalam kamar mandi besok akan saya sediakan kertas dan bolpoin, atau mesin ketik saja. Tadi sewaktu mandi, dinginnya air mengingatkan saya pada pendakian terdingin yang pernah saya rasakan. Saya ingat seorang kawan pada waktu itu, ingin saya tuliskan kisah itu. Saat saya kembali “menggebyur” badan, saya teringat kawan yang lain pada waktu mendaki di gunung yang lain pada bulan yang lain juga. Kisah yang manis untuk dituliskan juga pikir saya sambil “manggut-manggut”. Andai di dalam kamar mandi ada benda-benda yang saya sebutkan tadi, mungkin saya akan lebih berlama-lama lagi di dalam kamar mandi. Tidak akan saya hiraukan dingin yang menubruk badan tak berbusana. Karena tidak ada benda-benda itu, maka saya cepat-cepat melilitkan handuk dan keluar. Tanda selesai mandi.

Sebuah Invasi yang Tidak Kuduga

Aku terbangun oleh suara pesawat terbang yang terbang rendah. Suaranya gemuruh. Bukan hanya sekali, beberapa menit berselang kudengar suara yang sama. Invasi alien po ya? Degup jantungku bekerja lebih cepat, kepalaku pening. Barangkali karena aku terbangun belum lama dari waktu mataku terpejam. Sepulang dari rumah kawan untuk menghabiskan beberapa botol beer, aku memang tidak segera bisa tidur.  Di dalam kepalaku ada air terjun yang jatuh, kali ini hulu mengalirkan airnya cukup deras, seperti musim penghujan. Suara airnya berisik. Jarum jam melaju sangat pelan, kali ini aku membencinya. Mungkin aku tertidur. Entah apa yang membuatku tertidur, sampai pada saat aku terbangun oleh suara pesawat terbang. Dengan tergesa aku menuju kamar mandi. Melihat bak mandi yang airnya tinggal seperempat, aku segera membuka kran, membebaskan air untuk masuk ke dalam bak mandi. Sambil menunggu airnya penuh, aku menjerang air dengan ceret.  Berharap pening di kepalaku akan ikut menguap bersama kepulan asap kopi, setelah kusesap seduhan kopiku nanti, pikirku. Aku melihat laju jarum jam, kembali aku membencinya. Ternyata aku bangun satu jam lebih cepat dari biasanya. Perutku mules, aku berak. Air yang kuseduh telah matang, kuracik kopi seperti biasanya. Secangkir kopi dengan kepulan asapnya telah siap kusesap. Setelah sesapan pertama, aku tahu, pagi ini kopiku tidak enak seperti biasanya. 

~andr~


Pisau

Tolong ambilkan pisau di rak piring yang ada di dapur. Iya, memang ‘oglak-aglik’. Gagangnya sudah tidak kuat lagi. Masih bau bawang ya, kemarin baru saja dipakai ibuku untuk mengiris bawang dan bahan-bahan lainnya. Ibuku memasak oseng-oseng pare, pahit. Iya, aku akan hati-hati menggunakannya. Bukan, aku bukan ingin memotong bumbu atau sayur-sayuran. Satu detik terlalu panjang dan lama, ketika aku berada disituasi seperti ini. Menunggu hatimu pulih dari luka yang tidak sengaja kusayat kemarin. Aku ingin memotong waktu, menjadi lebih singkat. Berhasil? Dengan pisau bau bawang ini? Aku tidak tahu.

Sebuah Pesan

Selesai makan siang, aku hendak pergi ke toko buku. Mencari beberapa buku yang sudah lama kuinginkan. Waktu itu memang sedang luang. Aku pulang cepat dan makan siang di rumah. Beberapa detik setelah selesai makan, hujan turun, cukup lebat. Beberapa bagian atap rumahku bocor. Aku harus mencari beberapa ember untuk kuletakkan di bagian bawah atap rumah yang bocor.
Baca selanjutnya…

Seakan-akan Langka Sekali Kita Bertemu

Bertemu pacar merupakan sesuatu yang sangat membuatku bersemangat. Sesuatu yang melegakan, walau hanya berpapasan saja. Bertemu dalam waktu    saklumit, bercakap beberapa kalimat saja kemudian saling berpesan “hati-hati ya” lalu melambaikan tangan.
Baca selanjutnya…

Maaf Pak, Air Jernihmu Terkontaminasi Es Teh Manis Kami

Januari yang lupa tanggal dan tahunnya. Malam Minggu, kami berempat menyusuri jalan yang benderang oleh lampu jalan. Menuju stadion yang terkenal di kotaku.
Baca selanjutnya…

Catatan Kecil

Jika kamu sebuah buku, aku baru membaca kata pengantarnya saja. Masih banyak yang harus kudalami. Ijinkan aku untuk mendalamimu. Dan, kuharap kamu bersabar untuk itu.

Senin, 23 Januari 2017

Mendaki gunung adalah peristiwa sakral. Itu dari sudut pandang saya. Saya merasa lebih intim dengan Dia apabila berada pada situasi itu, merasa kecil jika berada di gunung. Bahkan, di tempat ibadahpun saya tak merasakan hal itu. Saya terlalu sombong berada di bawah sini; hidup bersama rutinitas. Bahkan menulis ini pun saya merasa besar kepala.
~andr~